Tau sesuatu bermanfaat, kasih tau ke orang lain, kemudian diamalkan, dan jadilah umur kedua (baca:pahala jariyah).
Hampir semua dari kita paham konsep ini, hampir semua dari kita pernah melakukannya, dan hampir semua dari kita yang kembali merasa malu, merasa belum pantes buat SHARE SESUATU, kemudian berhenti. Sebagian yang lain, berhenti SHARE SESUATU bukan karena malu atau merasa belum pantas, melainkan melupakannya. Mereka terus membaca, belajar, mengikuti webinar, mendatangi seminar, bertemu dengan orang-orang baik yang mengajarkan ilmu yang bermanfaat, mendapatkan petuah indah dari orang tua, sahabat, bapak ojek online, mendengar insight menarik dari podcast, konten-konten Reels, tapi semua itu hanya menjadi………menjadi apa ya? hehehe
Bikin diri sendiri lebih baik? mungkin iya. 100 Insight positif yang didapatkan, mungkin saja ada satu yang amalkan kemudian mengubah caranya menjalani hidup. Mengubahnya dalam waktu sehari, sepekan, sebulan, atau mungkin satu tahun, dan……seperti biasa lagi.
Istilah KNOWING DOING GAP cukup populer, karena faktanya memang banyak dari kita yang mengalaminnya. Tau banyak hal, tapi minim aksi PLUS MINIM SHARING. Banyak baca, tapi minim menulis. Sukanya menambah-menambah dan menambah. Buruk? Enggak juga sih. Apalagi menambah hal yang memang positif. Tapi, bukankah lebih baik lagi jika mengambil langkah untuk “SHARE SESUATU?”. Bukankah keimanan seorang hamba akan lebih sempurna mana kala ia “mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”?
Sebuah riset menyebutkan bahwa berbuat baik kepada orang lain, akan membuat seorang tersebut bahagia. Kebahagiaannya bertambah saat ia membantu orang lain, bukan ketika orang lain membalas kebaikannya.